Setelah itu, aku bertemu dengan seorang yang membantuku kembali tegar. Aku terlalu kuat bersandar padanya, bukan pada sang Khaliq. Aku merasa dia penguat jiwa dari rasa kehilangan orang yang pertama kucintai untuk pertama kali. Mungkin karena aku terlalu cinta padanya, maka Allah pun cemburu kepadaku. Bukankah Allah bisa cemburu?
Benar ternyata dia bukan jodoh yang tepat. Hatiku pun kian resah. Trauma kecelakaan calon suami yang dulu belum hilang, kini harus terkoyak karena orang yang sangat kucintai meninggalkan ku dengan menikahi seorang dokter. Saat itu aku merasa lemah sekali. Aku merasa hidup ini tak ada gunanya, terbuang dan terkucilkan.
Dalam kondisi yang benar-benar terpuruk, tak ada yang dapat kusandarkan selain kepada Allah. Mau berkeluh kesah kepada orang lain, kemungkinan besar tak dapat memberikan jalan keluar. Mau berkeluh kesah kepada keluarga, takut membuat hati mereka kian menangisi nasib anaknya.
Ya, dengan bangun malam dan tahajud. Kuyakin cara inilah yang terbaik untuk menyelesaikan koyakan batin yang melanda hati. Dan itulah yang telah kulakukan setelah kejadian itu. Aku sering bangun malam untuk mendirikan sholat dan menangis di hadapan-Nya.
Disaat-saat seperti ini, Allah terasa dekat. Dialah teman terbaik di seluruh kehidupanku. Aku memohon ampun dan menyandarkan nasib ini pada-Nya. Aku bersandar atas luka-luka hati yang menyayat karena kehilangan orang terkasih.
Setelah shalat tahajud hatiku terasa damai, bahagia dan keyakinanku kepada Allah kian bertambah. Hidup terasa ringan untuk dijalani. Aku berdoa agar Allah melupakan kejadian-kejadian yang membuatku trauma dan Allah mengabulkan doaku dan menggantikannya dengan sebuah hadiah terindah: Aku diterima masuk S-2 UGM Yogyakarta.
Sejak saat itu, pikiranku terfokus pada studi dan rasa kehilangan yang dulu membuat kesedihan terhapus sudah. Aku mengambil S-2 Jurusan Politik Lokal dan Otonomi Daerah sejak Februari 2007 dan lulus tahun 2010.
Setelah lulus, Allah memberikan pilihan terbaik lagi: Aku diterima sebagai Dosen. Dalam waktu secepat itu aku memperoleh pekerjaan yang bagi kebanyakan orang sulit mendapatkannya.
Meskipun sekarang belum mendapatkan tambatan hati yang sesusai harapan sebagai pemimpin keluarga, tetapi hati ini selalu tentram, damai dan bahagia.
Inilah mungkin berkah tahajud yang kurasakan. Aku merasa bahagia karena Allah selalu menyayangiku. Aku berpikir, kalau aku terlanjur menikah dengan lelaki itu, tentu aku sudah menjadi seorang janda. Dan siapa saja pasti bisa merasakan betapa pedih menjadi seorang janda. Menjadi janda adalah cobaan terbesar dan terberat bagi setiap perempuan, setegar apapun dia.
Kini hari-hariku adalah hari-hari indah. Kujalani hidup ini dengan bahagia sebagai dosen. Capek mengajar, tapi senang.
Aku dapat mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa dalam hidupku bahwa kita harus berpikir positif atas setiap kejadian yang menimpa. Semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal. Yang kekal hanyalah kekekalan itu sendiri. Kita pasti akan ditinggalkan dan meninggalkan semuanya. Ini hanya soal waktu saja.
(Kisah Dewi, MA., Dosen FISIP Universitas Wiralodra Indramayu)
Sumber : Berjuta Berkah Dhuha, Tahajud dan Sedekah
Sekian artikel seputar Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Bertambah Yakin Kepada Allah. Semoga artkel ini dapat menjadi sebab sobat mau menjalankan shalat tahajud
Baca Juga :
- Kisah Keberkahan Shalat Dhuha, Fadhilah Shalat Dhuha, Serasa Bertemu Allah
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Sembuh Dari Kanker Hati
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Allah Memberi Buah Hati
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Kuliah Selalu Gratis
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Hidup Menjadi Bahagia


0 Response to "Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Bertambah Yakin Kepada Allah"
Post a Comment