Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, Quraish melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang sambil nyantri di Pondok Pesantren al-Hadits al-Fiqhiyyah, mulai dari Tsanawiyah hingga Aliyah. Sejak kecil, Quraish telah menjalani perguimulan dan kecintaan terhadap al-Qur'an. Pada umur 6-7 tahun, ia harus mengikuti pengajian al-Qur'an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Pada waktu itu, selain menyurh membaca al-Qur'an, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Qur,an. Disinilah benih-benih kecintaannya kepada al-Qur'an mulai tumbuh.
Pada 1985, Quraish berangkat ke Kairo, Mesir, atas bantuan beasiswa dari pemerintah daerah Sulawesi (waktu itu Sulawesi belum dibagi Sulawesi utara dan Sulawesi Selatan). Ia diterima dikelas 2 Tsanawiyah al-Azhar.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, ia meraih gelar Lc (S1) pada Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir-Hadis Universitas al-Azhar. Ia lalu melanjutkan pendidikannya pada fakultas yang sama hingga memperoleh gelar master (MA) pada tahun 1969.
Quraish nyaris menjadi bujang lapuk. Menjelang usia 30 tahun ia belum juga menikah. Padahal kakaknya menikah pada usia 18 tahun, sedangkan adiknya sudah lebih dulu menikah. Setiap kali ia bertugas ke luar kota, ia sekaligus "berburu" calon pasangan. Tetapi sayangnya, setiap kali bertemu wanita ia merasa ada saja yang kurang cocok. Tidak lama kemudian ia menemukan jodoh, seorang putri Solo bernama Fatmawati. Ia menikah dengan Fatmawati tepat dihari ulang tahunnya yang ke-31, 16 Februari 1975. dan dikaruniai lima anak, empat perempuan satu lelaki. Anak pertama Najla (Ela) lahir 11 September 1976, kedua Najwa lahir 16 September 1977, ketiga Nasma lahir tahun 1982, keempat Ahad lahir 1 Juli 1983 dan terakhir Nahla lahir di bulan Oktober 1986.
Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish dipercaya menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan di IAIN Alauddin Ujung Pandang, Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII Indonesia Bagian Timur), Pembantu Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang Pembinaan Mental. Selama di Ujung Pandang, ia sempat melakukan penelitian, misalnya penelitian masalah "Penerapam Kerukunan Hidup di Indonesia Bagian Timur" (1975) dan masalah "Wakaf Sulawesi Selatan" (1978).
Pada Tahun 1980, Quraish kembali ke Kairo untuk melanjutkan Program Doktor (S-3) pada almamaternya. Pada tahun 1984, ia berhasil meraih gelar Doktor dalam ilmu-ilmu al-Qur'an dengan yudisium summa cumlaude disertai penghargaan Tingkat 1 (Mumtaz ma'a Mataba'at al-Syaraf al-'Ula).
Suka Menulis Setelah Tahajud
Sekembalinya ke Indonesia, sejak tahun 1984, Quraish ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Syarif Hidayatullah), bahkan sempat menjabat sebagai rektor. Selain aktifitasnya di IAIN, ia dipercaya menduduki berbagai jabatan antara lain; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tahun 1984, Anggota Lajnah Pentashih al-Qur'an Departemen Agama sejak tahun 1989, Ketua Lembaga Pengembangan al-Qur'an, Menteri Agama RI. dalam kabinet pembangunan VII tahun 1998, sebelum presiden Suharto tumbang 2 Mei 1998, dan Duta Besar Indonesia di Mesir.
Quraish banyak terlibat dalam organisasi profesional, antara lain; Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syari'ah, Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Quraish aktif dalam kegiatan tulis menulis seperti menulis dalam rubrik Pelita Hati, mengasuh rubrik Tafsir al-Amanah dalam majalah yang terbit dua mingguan di Jakarta, dan mengasuh rubrik tanya jawab seputar agama di Harian Republika. Selai itu, Quraish juga tercatat sebagai dewan redaksi Jurnal Ulumul Qur'an dan Mimbar Utama yang keduanya terbit di Jakarta.
Nama Quraish tidak asing lagi dalam kajian keislaman di Indonesia, terutama dalam bidang tafsir. Ia dikenal rendah hati dan tidak pernah menggurui. Ulasannya mudah dipahami dan logis-realistis kerap membuat para pembaca dan penonton televisi terkesan.
Ia banyak menulis buku dan mengaku bahwa waktu yang paling ia sukai untuk menuntaskan karya-karya tulisnya adalah waktu sebelum shubuh (setelah tahajud) dan dilanjutkan sejenak setalah shubuh. Setalah tahajud adalah waktu yang paling berkesan karena selain tenang dan sepi, ada kesegaran yang tak diperoleh bila dikerjakan pada siang hari.
(Kisah : Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Begawan Tafsir al-Qur'an Indonesia)
Sumber : Berjuta Berkah Tahajud, Dhuha dan Sedekah
Baca Juga :
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Selalu Lurus di Jalan-Nya
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Ditunjukkan Istri Shalehah
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Seperti Dalam Mimpinya
- Kish Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Dimudahkan Dalam Menghapal
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Tidak Jadi Dicaesar


0 Response to "Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Suka Menulis Setelah Tahajud (Kisah Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA."
Post a Comment