Ya, aku bukan orang pintar. Terlahir di desa kecil di Kendal, Jawa Tengah. Aku mengenyam pendidikan biasa layaknya anak-anak desa lain. Pada waktu itu, tidak pernah bermimpi bisa menjelajahi dan belajar sampai negeri Amerika Serikat. Setamat SD, aku belajar SMP dan Madrasah Aliyah di daerahku sembari menimba ilmu agama di pesantren. Lulus dari Madrasah Aliyah, aku beradu nasib untuk belajar IAIN Walisongo Semarang. Tak ada yang spesial dari jenjang pendidikanku.
Sekedar berbagi bahwa akumulasi dari usaha dan doa sangat menentukan keberhasilan dalam kehid upan. Kesuksesan bukan ditentukan oleh intelegensia dan keturunan, tetapi oleh usaha dan doa. Malcomm Gladwell dalam bukunya Outliers mengulas mengenai profil-profil orang sukses kaliber dunia menyimpulkan bahwa untuk menjadi orang berhasil dibutuhkan rata-rata waktu inkubasi atau usaha selama 10.000 jam.
Selain percaya terhadap positivme usaha, sebagai muslim aku menaruh porsi besar dalam doa kepada sang sutradara kehidupan, yaitu Allah Swt. Sejak SMP, ayahku selalu mengajari untuk melakukan shalat tahajud. Lambat laun setalah belajar agama di sekolah, aku mengetahui bahwa shalat tahajud merupakan ritual penting untuk menggapai kesuksesan. Tak berlebihan karena shalat ini dilakukan di sepertiga malam terakhir dimana kebanyakan orang sedang tertidur lelap. Beratnya ritual tahajud menjadikan ibadah tersebut sangat penting bagi setiap muslim. Dan aku sangat meyakini bahwa salah satu penentu mulusnya kehidupanku adalah shalat tahajud.
Diakhir semester kuliah, kira-kira tahun 2006, aku mulai tertarik mengikuti program beasiswa dan pertukaran pelajar di kampus. Berbekal bahasa inggris yang pas-pasan aku mulai membuka website dan mengikuti seleksi pertukaran pelajar. Pernah aku mendaftar program pertukaran pelajar Indonesia-Kanada yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Tengah. Pada saat itu, aku hanya sampai tahap terakhir test seleksi. Tak lama kemudian, aku mengikuti program IELSP (International English Language Study Program) ke Amerika. Nilai TOEFL yang sangat pas untuk perekrutan tersebut tidak mengurangi kesempatanku untuk mengikuti program tersebut.
Al-Hamdulillah, aku menjadi bagian dari 20 penerima beasiswa tersebut yang diambil lebih dari 500 pelamar. Sangat mengherankan pada waktu itu, karena semua temanku berasal dari perguruan tinggi ternama asal Indonesia dan merka mempunyai skor bahasa inggris yang tinggi. Ini membuktikan bahwa aku bukan orang pintar sehingga ada faktor lain yang kuyakini berasal dari "Tangan" Allah.
Pulang dari Amerika aku menyelesaikan kuliah. Layaknya mahasiswa lain, aku mengikuti ujian tutup atau komphrensif. Skripsi yang kutulis setengah di Indonesia dan di Amerika tersebut membawa berkah dengan memenangi kriteria skripsi terbaik ditingkat universitas. Lagi-lagi kalau boleh jujur, malu sekali aku membuka skripsi tersebut sekarang, karena banyak sekali kekurangan baik dari segi metodologi maupun penyajian hasil penelitian. Aku hanya beruntung.
Lulus kuliah aku mengajar di salah satu sekolah swasta di Semarang. Sembari berdoa lewat ibadah wajib maupun sunnah, aku tetap berkarya dengan menulis di media massa untuk menghidupkan nalar kritis sekaligus mencari sedikit bekal kehidupan melalui fee menulis dari media massa karena memang gaji guru pada saat itu tidak bisa diandalkan untuk menutupi kebutuhan hidupku.
Aku juga terus berusaha melamar beasiswa pasca sarjana seperti yang kuimpikan semenjak kumengerti bahwa kualitas pendidikan di Amerika sangatlah baik. Aku mulai membuat personal statement yang berisi motivasi seorang pelamar mengikuti beasiswa. Selain itu menulis study objective yang berisi ulasan bidang studi yang akan pelamar tempuh jika lolos dalam seleksi beasiswa. Bagiku, seleksi beasiswa luar negeri di Indonesia sangat kompetitif karena banyak pelamar dari berbagai penjuru Indonesia. Aku mulai melamar beasiswa George Sorosh Foundation untuk studi ke Inggris. Dalam beasiswa ini, aku lolos sampai dengan tahap terakhir, yaitu wawancara setelah mengikuti seleksi administrasi, bahasa dan lainnya. Dalam skema beasiswa tersebut aku kurang beruntung. Lalu aku pulang dari Jakarta ke Kendal setelah seharian mengikuti test beasiswa, padahal kuberharap lolos seleksi beasiswa tersebut yang tinggal 6 pelamar dari sekian banyak pelamar di Indonesia. Melayani Juga Jasa Service AC Jakarta Selatan, Service AC Jakarta Selatan Bergaransi, Service AC Terdekat Jakarta Selatan, Service AC Kelapa Gading, Service AC Cinere, Service AC Cibubur, Service AC Cilandak, Service AC Rawamangun, Service AC Rawamangun Murah, Service AC Pondok Indah, Service AC Bintaro, Service AC Pluit, Service AC Pluit Murah, Service AC Marunda, Service AC Kebon Manggis, Service AC Terdekat di Kebon Manggis, Service AC Kebon Manggis Bergaransi, Service AC Cipinang Cempedak, Service AC Marunda Murah, Service AC Ancol, Service AC Cililitan, Service AC Ancol, Service AC Terdekat Ancol, Service AC Kenari, Service AC PIK, Service AC PIK Murah, Service AC Terdekat di PIK, Service AC BSD, Service AC Kemang, Service AC Terdekat Kemang, Service AC kemang Timur, Service AC Cipete Utara, Service AC Melawai, Service AC Bukit Duri, Service AC Jakarta Utara, Service AC Jakarta Timur, Service AC Jakarta Barat, Service AC Jakarta Pusat, Service AC Depok, Service AC Bogor, Service AC Tangerang, Service AC Tangerang Selatan, Service AC Bekasi, Service AC Ciputat
Kata orang tuaku, "Berdoalah dan tetap berusaha, pasti nanti ada saatnya."
Aku pun mengamini nasihat orang tuaku itu.
Hampir semua seleksi beasiswa yang sesuai dengan kualifikasiku aku ikuti. Mulai dari Australian Development Scholarship. Full Bright dan lain-lain, tetapi belum juga membuahkan hasil. Terkadang aku mau menyerah karena terlalu lama dan tak ada satupun jawaban dari lembaga donor untuk memberi kesempatan kepadaku.
Masih seperti biasa aku mengajar dan menghabiskan waktu bersama siswa-siswa di sekolah. Awal tahun 2008 aku bergabung menjadi pengajar di lembaga bahasa kampus. Suatu hari, aku mengalami musibah yang luar biasa, yaitu motorku dicuri setalah mengikuti kegiatan kampus. Ya Allah, cobaan apalagi ini. Padahal, motor tersebut merupakan "kakiku" untuk wara-wiri dari rumah ke Semarang. Selama kurang lebih dua minggu aku di rumah, karena tidak ada transportasi untuk mengajar.
Al-Hamdulillah, setelah itu seperti ada angin segar panelis beasiswa Ford Foudnation menyuratiku bahwa aku lolos seleksi administrasi dan diharapkan untuk melengkapi formulir aplikasi. Selang tiga bulan aku mendapat surat untuk mengikuti seleksi bahasa Inggris. Tiga bulan lagi aku menerima undangan untuk wawancara dan akhirnya lolos. Lagi-lagi aku tidak pernah berpikir masuk 36 penerima beasiswa dari 10.000 pendaftar. Aku yakin banyak orang pintar lebih dariku dan itu kutemui ketika interview. Tetapi Allah sedang memberikan nikmat yang luar biasa bagiku.
Setelah itu aku mengikuti pelatihan persiapan studi selama 6 bulan di Jakarta. Lagi-lagi aku tak menyangka diterima di University of Texas Austin, kampus yang konon nomor 5 di Amerika versi U.S. News. Sekali lagi aku bukan orang pintar. Aku hanya bagian dari hamba Allah yang mendapatkan nikmat besar dan semoga nikmat ini bisa meningkatkan kapasitas hidupku dihari depan.
Tulisan ini hanya sekadar wahana berbagi untuk semua muslim bahwa Islam merupakan agama yang luar biasa . Ajaran Islam pun sangat detail, seperti untuk meraih kesuksesan hidup diajarkan untuk selalu berusaha melaksanakan amalah sunnah seperti shalat tahajud.
Sampai sekarang, nasihat guru dan orangtua untuk melanggengkan (merutinkan) shalat tahajud sebisa mungkin menjawab kegelisahan-kegelisahanku. Selalu saja apa yang kucita-citakan dijawab oleh Allah. Dibutuhkan keyakinan dan totalitas tinggi bahwa dengan melaksanakan shalat tahajud, Allah akan memberi kemudahan bagi seorang yang sedang mengayuh dayung menuju kehidupan yang didambakan. Aku yakin dengan janji Allah bahwa siapapun yang melaksanakan shalat disepertiga malam terakhir akan diberikan tempat yang terpuji. Aminn.....
(Kisah Agus Mutohar, Peraih Beasiswa S-2 University of Texas Austin Amerika Serikat)
Sumber : Berjuta Berkah Tahajud, Dhuha dan Sedekah
Baca Juga :
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Mendapat Nilai Tertinggi
- Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Meraih Beasiswa Sejak SMA Sampai S-3
- Keutamaan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Manfaat Shalat Tahajud


0 Response to "Kisah Keberkahan Shalat Tahajud, Fadhilah Shalat Tahajud, Terpilih Dari 10.000 Peserta"
Post a Comment